Tak Menyerah: Kisah Intan Puspitasari Dosen PG PAUD Menembus Beasiswa LPDP di UQ
Yogyakarta – Kisah Intan Puspitasari menjadi inspirasi bagi sivitas akademika FKIP UAD, khususnya mahasiswa dan dosen, bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari sekali percobaan. Konsistensi, ketahanan diri, serta keberanian untuk terus mencoba menjadi kunci dalam meraih peluang global.
Intan Puspitasari, dosen Program Studi PGPAUD FKIP UAD, berhasil meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi di The University of Queensland, Australia, pada School of Education.
Perjalanan Intan menuju beasiswa tidaklah instan. Ia mengawali langkah dengan mencoba melamar studi di Adelaide University. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Selain terkendala ketersediaan calon pembimbing (supervisor), ia juga belum memenuhi persyaratan kemampuan bahasa Inggris, khususnya pada skor IELTS yang masih berada pada angka 6.0 di salah satu band.
“Waktu itu rasanya cukup terpukul, karena sudah berusaha tetapi ternyata belum memenuhi syarat. Namun di titik itu saya sadar, saya harus memperbaiki diri, bukan berhenti,” ungkap Intan.
Tidak berhenti di situ, Intan kemudian kembali mempersiapkan diri dengan lebih matang. Ia mengikuti tes IELTS sebanyak tiga kali hingga akhirnya memperoleh skor terbaik 7.5.
“Saya sempat lelah karena harus mengulang tes beberapa kali, apalagi ketika skor sebelumnya sudah hampir memenuhi. Tapi saya berpikir, kalau saya berhenti di tengah jalan, semua usaha sebelumnya akan sia-sia,” tuturnya.
Dalam upaya mendapatkan pembimbing akademik, Intan menunjukkan kegigihan luar biasa. Ia menghubungi sekitar 15 dosen dari berbagai universitas. Di The University of Queensland, ia sempat menghubungi lima dosen hingga akhirnya mendapatkan respons positif dari dosen kelima yang bersedia melakukan pertemuan dan kemudian menjadi pembimbingnya.
“Saya kirim email satu per satu, menunggu balasan, dan sering kali tidak mendapat respons. Sempat merasa ragu, tapi saya terus mencoba. Ketika akhirnya ada dosen yang mengajak meeting, rasanya seperti ada harapan baru,” ujarnya.
Selain itu, perjalanan memperoleh beasiswa juga diwarnai dengan berbagai percobaan. Intan mengikuti seleksi LPDP sebanyak tiga kali dan selalu berhasil mencapai tahap wawancara.
“Setiap gagal, saya selalu evaluasi. Saya belajar dari pengalaman sebelumnya—memperbaiki esai, memperkuat alasan studi, dan melatih diri untuk wawancara. Proses itu yang akhirnya membentuk saya,” jelasnya.
Tidak hanya LPDP, Intan juga aktif mencoba berbagai peluang beasiswa lainnya, seperti Australian Awards Scholarship (AAS) sebanyak dua kali, Malaysia International Scholarship (MIS) satu kali, serta program research fellow di Groningen, Belanda. Beragam pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang memperkuat kesiapan akademik dan mentalnya.
“Bagi saya, kegagalan itu bukan penutup, tapi bagian dari proses. Yang penting adalah tetap bergerak, tetap mencoba, dan percaya bahwa setiap usaha akan menemukan jalannya,” tambah Intan dengan penuh keyakinan.
Keberhasilan ini diharapkan dapat memperkuat budaya akademik dan motivasi internasionalisasi di lingkungan FKIP UAD, serta mendorong lebih banyak dosen dan mahasiswa untuk berani mengambil peluang studi lanjut di tingkat global.


